Advertisement
Ratusan Siswa Diduga Keracunan MBG, Pengawasan Keamanan Pangan Jadi Sorotan
JAKARTA – Kasus dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah ratusan murid sekolah dasar di wilayah Cakung, Jakarta Timur, mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG.
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang insiden serupa yang terjadi sejak program nasional itu mulai berjalan. Sejumlah kalangan kini menyoroti aspek keamanan pangan dan kesiapan dapur penyedia makanan dalam memenuhi target distribusi berskala besar.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, sedikitnya 252 laporan diterima dari orang tua murid terkait gejala dugaan keracunan pangan. Dari jumlah tersebut, 188 siswa tercatat mengakses layanan kesehatan dan 26 murid masih menjalani perawatan di rumah sakit hingga Sabtu (9/5/2026).
Dugaan awal mengarah pada salah satu menu berupa pangsit tahu yang disajikan oleh dapur MBG di wilayah Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur. Namun, pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Di tengah polemik itu, sejumlah akademisi menilai program MBG masih menghadapi tantangan besar dalam aspek pengelolaan keamanan pangan, terutama pada kapasitas produksi massal di dapur penyedia makanan.
Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo, sebelumnya mengingatkan bahwa tingginya target produksi makanan dalam program MBG berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi apabila tidak diimbangi kesiapan sistem dan sumber daya manusia.
Dalam kajiannya, Sri menyebut sejak awal 2025 hingga April 2026 terdapat sedikitnya 33.626 pelajar yang dilaporkan mengalami dugaan keracunan terkait program MBG.
Menurutnya, target produksi hingga 3.000 porsi per hari untuk setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai terlalu besar bagi unit dapur yang masih baru dibentuk.
“Hampir setiap bulan ada laporan kasus dengan jumlah yang fluktuatif. Ini menunjukkan persoalan serius terkait kesiapan,” ujarnya dalam kajian akademik tersebut.
Sri menjelaskan, risiko kontaminasi pangan dapat muncul mulai dari proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan yang memerlukan waktu cukup panjang sebelum dikonsumsi siswa.
Ia mencontohkan pengolahan bahan pangan seperti ayam dalam jumlah besar membutuhkan kontrol suhu dan manajemen produksi yang ketat agar seluruh makanan matang sempurna dan bebas bakteri.
Selain itu, faktor kelelahan tenaga kerja dapur juga disebut dapat memengaruhi kualitas pengawasan dalam proses produksi makanan harian berskala besar.
Kasus dugaan keracunan di Cakung kini memunculkan desakan agar pemerintah memperketat pengawasan standar operasional prosedur (SOP), higienitas dapur, hingga pengujian berkala terhadap makanan yang disalurkan kepada siswa.
Sejumlah pihak juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas operasional SPPG agar program MBG tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan bagi para pelajar.
Sumber: Tempo.co dan kajian akademik Universitas Gadjah Mada
